Saturday, May 8, 2010

TULISAN INCUNG TERANCAM PUNAH ?

KAHUMAS Kab. Kerinci, Amri Suwarta mengungkapkan bahwa beberapa tradisi daerah ini, salah satunya “Incung”, sekarang terancam punah karena kurang dilestarikan.
Ketika dihubungi di Jambi, Sabtu, ia menjelaskan, masyarakat adat “Bumi Sakti Alam Kerinci” sebutan Kerinci yang meliputi Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh merupakan salah satu pusat peradaban masa lampau yang memiliki keunikan dan tradisi yang spesifik.
Sebagai daerah yang berada di wilayah paling barat Provinsi Jambi, masyarakat Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh memiliki ciri khas tersendiri, antara lain memiliki bahasa dan tulisan serta memiliki beragam peninggalan budaya masa lampau seperti peninggalan batu megalitikum dan neolitikum.
Amri Suwarta yang didampingi Yusvet Helmi mengatakan, Kerinci memiliki bahasa yang disebut dengan Bahasa Kerinci dan tulisan yang disebut dengan Incung.

Namun saat ini masyarakat, terutama generasi muda tidak banyak yang memahami atau mengenal Incung.
Beberapa tokoh masyarakat  seperti Alimin DPT, Iskandar Zakaria dan almarhum Prof DR Amir Hakim Usman, mantan guru besar IKIP Padang, termasuk sedikit orang yang pernah menggali dan membukukan tulisan asli Kerinci, katanya.

Sementara itu, Yusvet Helmi mengimbau Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata Kabupaten Kerinci dan Kota Sungaipenuh untuk melakukan penelitian kembali terhadap tulisan Incung, jika perlu dibukukan dan dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal di sekolah.
“Incung harus kita lestarikan, salah satunya melalui sekolah dengan memasukkan senagai salah satu muatan lokal,” katanya.

Incung banyak ditemui pada berbagai peninggalan budaya dan ditulis pada tanduk kerbau dan daun lontar serta peninggalan budaya lainnya.

Ke depan diharapkan Pemkab Kerinci dan Pemkot Sungaipenuh perlu membangun museum budaya. Meski secara administrasi kenegaraan keduanya dipisahkan, namun secara budaya masyarakat kedua daerah ini merupakan satu kesatuan adat dan budaya yang tidak dapat dipisahkan, tambah Yusvet Helmi.

Menyimak Kutipan berita diatas dar berbagai sumber, Program melestarikan tulisan INCUNG, sudah lama dilakukan pencetus pertama kali untuk memasukan Incung sebagai kurikulum muatan lokal di Kabupaten Kerinci, adalah Alimin Dpt, yang saat itu menjabat sebagai Kasubdin Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kerinci, dan beliau telah melakukan pengumpulan dan mendata tulisan Incung secara swadaya selama 30 tahun, dan beliau juga merupakan salah satu Pencetus Festival Danau Kerinci, dan Medesain Lambang Buat Festival itu, dan Peranan Mantan Bupati Kerinci Fauzi Siin, tidak bisa dilepaskan dari pelestarian Budaya Kerinci.

Pelestarian budaya dan nilai-nilai kearifan lokalnya, dibutuhkan orang-orang yang betul betul tulus, dan berani berkorban, bukan hanya mengandalkan proyek dari dana APBD dan APBN, sementara pengorbanan yang demikian sering kali dilupakan, aparatur pemerintah di kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh hanya mengikuti ide-ide yang telah dilakukan oleh pendahulunya. Sebagai Kabupaten dan Kotamadya yg baru, dibutuhkan ide-ide yg betul-betul, cermat sehinga bisa disosialisasikan untuk peningkatan pembangunan yg telah ada.


Kabupaten Kerinci dan Kotamadya Sungai Penuh, yg dihuni oleh penduduk yg mempunyai karakteristik sendiri dan spesifik, mesti membuat kebijakan dalam pembangunan yg betul-betul cermat dengan memperhatikan karakteristik, topografi, dan nilai-nilai budaya masyarakatnya, kalau tidak ibarat membangun tanggul yang siap jebol.

(Negara yang kuat adalah negara yg mengingat jasa para Pahlawanya)